Vitamin D3 1000 IU untuk Kekebalan

Vitamin D3 1000 IU untuk Kekebalan

Purityfic Vitamin - Para ilmuwan di Universitas Kopenhagen telah menemukan bahwa Vitamin D sangat penting untuk mengaktifkan pertahanan kekebalan tubuh dan tanpa asupan vitamin yang cukup, sel pembunuh dari sistem kekebalan -- sel T -- tidak akan dapat bereaksi dan melawan infeksi serius dalam tubuh.

Baca juga: Manfaat Vitamin D3: Pengertian, Dosis dan Sumber Makanan

Agar sel T dapat mendeteksi dan membunuh patogen asing seperti gumpalan bakteri atau virus, sel-sel tersebut harus terlebih dahulu 'dipicu' untuk beraksi dan 'bertransformasi' dari sel imun yang tidak aktif dan tidak berbahaya menjadi sel pembunuh yang siap untuk mencari dan menghancurkan semua jejak patogen asing.

Para peneliti menemukan bahwa sel T bergantung pada vitamin D 1000 IU untuk dapat diaktifkan, dan sel-sel tersebut akan tetap tidak aktif terhadap kemungkinan ancaman jika kadar vitamin D dalam darah rendah.

Bagaimana vitamin D 1000 IU mempengaruhi sistem kekebalan tubuh?

Vitamin D tidak hanya penting untuk kesehatan tulang dan kalsium, tapi juga memiliki peran penting dalam mendukung sistem kekebalan tubuh. 

Vitamin D ditemukan pada sel-sel kekebalan seperti sel B, sel T, dan sel yang memperlihatkan antigen, yang semua dapat membuat bentuk aktif dari vitamin D sendiri. Ini memungkinkan vitamin D berfungsi langsung di area di mana sel-sel kekebalan bekerja.

Vitamin D membantu mengatur sistem kekebalan bawaan dan adaptif, yang bertanggung jawab melindungi tubuh dari infeksi dan penyakit. 

Kekurangan vitamin D dapat menyebabkan peningkatan risiko penyakit autoimun, di mana sistem kekebalan menyerang sel-sel tubuh sendiri, dan membuat seseorang lebih mudah terinfeksi. 

Oleh karena itu, memberi tambahan vitamin D pada orang yang kekurangan vitamin ini, terutama yang memiliki penyakit autoimun, bisa membantu lebih dari sekedar kesehatan tulang dan kalsium mereka.

Berapa banyak vitamin D 1000 IU yang dibutuhkan setiap hari untuk meningkatkan kekebalan tubuh?

Mengonsumsi multivitamin yang mengandung vitamin D 1000 IU dapat membantu meningkatkan kesehatan tulang. 

Jumlah vitamin D yang direkomendasikan setiap hari adalah 400 untuk anak-anak hingga usia 12 bulan, 600 IU untuk orang berusia 1 hingga 70 tahun, dan 800 IU untuk orang yang berusia di atas 70 tahun.

Apa akibat dari kekurangan vitamin D terhadap sistem kekebalan tubuh?

Studi klinis menunjukkan bahwa kekurangan vitamin D 1000 IU berkorelasi positif dengan timbulnya atau memburuknya berbagai penyakit autoimun. 

Bukti epidemiologi terbaru menunjukkan hubungan yang signifikan antara kekurangan vitamin D dan peningkatan kejadian, atau kejengkelan, penyakit menular dan penyakit autoimun inflamasi, seperti rheumatoid arthritis, lupus eritematosus sistemik, dan multiple sclerosis. 

Siapa saja yang paling berisiko mengalami kekurangan vitamin D 1000 IU?

Kekurangan vitamin D dapat dialami oleh siapa saja, termasuk bayi, anak-anak, dan dewasa.

Kekurangan vitamin D mungkin lebih umum pada orang dengan kandungan melanin kulit yang lebih tinggi (kulit lebih gelap) dan yang mengenakan pakaian yang menutupi kulit secara luas, terutama di negara-negara Timur Tengah.

Kekurangan vitamin D adalah masalah global yang umum. Sekitar 1 miliar orang di seluruh dunia mengalami kekurangan vitamin D, sementara 50% populasi mengalami kekurangan vitamin D.

Sekitar 50% orang di Indonesia mengalami kekurangan Vitamin D. 

Apakah suplemen vitamin D efektif dalam meningkatkan kekebalan tubuh?

Suplemen Vitamin D3 1000 IU dapat direkomendasikan sebagai suplemen vitamin D untuk mengatasi kekurangan tersebut, yaitu vitamin D2 (diperoleh dari sumber nabati dan suplemen oral) dan vitamin D3 (terdapat dalam tumbuhan dan hewan serta diperoleh dari ikan berminyak dan makanan yang diperkaya secara variabel serta suplemen oral). 

Dalam konteks ini, mereka juga dapat menjadi subjek intervensi imunomodulasi nutrisi, karena vitamin D telah terbukti memainkan peran kunci dalam merangsang respons imun dan melindungi dari infeksi, termasuk infeksi saluran pernapasan, alergi, penyakit autoimun, dan perkembangan tumor ganas.